Thursday, May 9, 2013

Presiden PAS lawat Ustaz Azizan



GEORGETOWN: Presiden PAS, Datuk Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang melawat bekas Menteri Besar Kedah, Datuk Seri Azizan Abdul Razak di wad CCU Hospital Besar Pulau Pinang petang tadi.
Selain beliau, turut kelihatan ialah Menteri Besar Kelantan, Datuk Ahmad Yaacob serta bekas Menteri Besar Kedah, Datuk Seri Mahazir Khalid.
Menurut bekas Setiausaha Akhbarnya, Helmi Khalid, kesihatan bekas ketuanya itu dalam keadaan stabil dan memerlukan pembedahan di bahagian kaki.
Ustaz Azizan masuk ke hospital berkenaan kerana masalah kencing manis dan ginjal yang telah dialami sekian lama.- HD

Friday, March 22, 2013

Mengharukan

Mungkin ada yang pernah disakiti teman atau sahabat? Sebagai manusia yang punya keunggulan tertinggi di antara semua mahluk, kita ternyata tetap harus belajar pada naluri hewan. Bahkan  sepasang tikus putih ini.

 
 
 
Di sebuah zoo binatang, Hangzau Zoo di provinsi Zheijang, Cina Timur, terjadi pemandangan unik sekaligus mengharukan. Ketika dua ekor tikus putih dimasukkan ke dalam kandang ular untuk makan malam, salah satu tikus taditerus  didekati ular sebagai santapan pertamanya.

Namun, apa yang terjadi? Kawan tikus putih tersebut dengan gagah berani mendekati ular dan menyerang untuk menolong temannya yang sedang dalam bahaya. Tentu saja tindakan ini teramat nekad, mengingat ular hijau ini adalah jenis ular berbisa. Jadi, bukan saja jauh lebih besar dari ukuran tubuh sang tikus, kekuatan ular ini jauh di atas kelasnya.

 

 
 

Tuesday, March 19, 2013

Ummu Nidhal



Ummu Nidhal atau dikenali juga sebagai Khansa' Palestin adalah seorang 'ibu hebat' yang telah menyerahkan kesemua 4 anaknya untuk menentang tentera Zionis. Tiga daripada empat anaknya telah syahid bertemu dengan Allah swt. Manakala seorang lagi daripada anaknya masih lagi didalam tahanan Israel.

Ummu Nidhal tidak terkejut menerima berita kematian anak anaknya bahkan beliau bersedia menyerahkan semua anak-anaknya untuk mati syahid. Beliau pernah berkata ketika diwawancara oleh pemberita tentang pemergian anaknya,

"Anak saya telah syahid. Dia yang akan menolong saya dengan kesyahidannya. Sesiapa yang menyayangi anak-anaknya berikanlah sesuatu yang paling berharga semampunya kepada anakmu. Dan perkara paling berharga yang boleh diberikan ialah syurga".

Baca dan hayatilah kata-kata ibu Mujahid ini yang telah mempersembahkan kesemua anaknya kepada Allah S.W.T serta menanti saat dan detik untuk beliau sendiri bertemu dan berkumpul bersama anak-anaknya di syurga yang tertinggi!

Antara perkataan yang sering diungkapkan oleh Ummu Nidhal adalah:

"Kematian adalah suatu perkara yang menyedihkan, tetapi jangan bimbang kerana bertemu dengan Allah, adalah suatu kegembiraan yang tidak dapat digambarkan (mengatasi perasaan sedih tersebut)".

"Ketika anakku yang sulung, As-Syahid Muhammad Fathi Farhat mencecah usia enam tahun, saya telah katakan kepadanya; Ibu mahu kamu berperang melawan Israel dengan senjata, bukan dengan batu."
Tanpa sedikitpun keraguan serta kebimbangan dalam hati saat itu beliau mengarahkan anak ke medan juang demi mengusir penjajah. Kerana saya yakin apa yang saya ungkapkan itu adalah demi kebaikan untuk anak-anak saya."

"Tiada khabar yang paling mengembirakan buat saya, apabila puteraku mula menyampaikan berita bahawa dia telah bergabung bersama Briged Al Qassam, sayap pejuang Hamas, dan sedang bersiap sedia menyongsong amanah syahid dalam sebuah medan peperangan. Allah telah mengabulkan hasrat dan cita-cita saya."

Saat perpisahannya dengan putera sulungnya, Farhat, dia dan anaknya itu saling berpelukan kemudian berkata, "Ibu tidak dapat membendung air mata, tetapi jangan percaya dengan air mata ibu ini nak, Ini adalah air mata bangga menjelang hari pertemuanmu dengan bidadari. Pergilah menemui Rabb-Mu dan berjihadlah. Tetaplah hatimu thabatlah, kekallah seperti itu sampai engkau bertemu Allah Taala."

Begitu kuat, cekal serta tabah hati ibu ini. Semoga semua ibu-ibu dan kaum wanita khususnya di luar sana dapat mengambil iktibar dalam melahirkan dan mendidik seramai mungkin generasi Mujahid yang bakal meletakkan Islam ini ke tempat yg tertinggi satu hari nanti! 

"Wahai ibuku, relakanlah perjuangan anakmu.."

Monday, March 18, 2013

Dengan Jilbabnya Ia pun Mampu Berdakwah, 7 Profesor Barat Masuk Islam Karenanya

satu contoh dari sekian banyak potret kehidupan  seorang wanita muslimah yang begitu bangga dan merasa 

pelarangan-cadar 

terhormat dengan agama yang selama ini ia telah hadir mewarnai perjalanan hidupnya .  Seorang muslimah yang di hatinya terdengar keras detak syiar  agama Allah .
Itualah hati yang mampu mengenal Allah dan Rasul Nya sehingga keraguan tak pernah lagi dijumpai di dalamnya. Dialah sosok seorang  wanita muslimah yang hatinya selalu  selalu memikul tanggung jawab da’wah. Namun sayang figur semacam ini ternyata langka untuk kita temukan. Ya memang sangat langka sekali.

Ummu Abdul Aziz, begitulah wanita ini biasa disapa dalam kesehariann.  Suaminya seorang dokter yang tinggal di kota Riyadh, Saudi Arabia.

Pada satu kesempatan, Ummu Abdul Aziz harus menyertai suaminya untuk menghadiri salah satu konferensi medis yang diselenggarakan di salah satu negara Eropa. Dengan langkah pasti ia iringi keberangkatan sang suami. Ya, ia sadar sekali bahwa Tuhan yang selama ini ia sembah di negaranya tak lain adalah Tuhan yang akan ia jumpai di negera eropa tersebut.  Tuhan yang satu, Allah.  Demikian pula halnya kaum Pria yang ia jumpai nya di negara asalnya, Arab Saudi.  Oleh karena itu , setibanya di negara tujuan, kondisinya tidak berubah sedikitpun.

Komitmennya untuk senantiasa melaksanakan segala perintah Tuhannya  ia selalu pegang dengan baik. Hal ini nampak terlihat jelas dari cara ia berpakaian.  Potongan kain yang dikenakannya  menutupi seluruh anggota tubuhnya.. Ya Ummu Abdul Azis  mengenakan pakaiannya secara lengkap sehingga tidak tak sedikitpun anggota tubuhnya yang dapat terpandang mata, meskipun ia  berada  di kawasan Eropa yang identik dengan  mode-mode pakaian masa kini . Oleh karenanya wajar apabila masyarakat Eropa yang menjumpainya merasa heran dengan pemandangan yang sangat asing seperti yang ia tampakkan.  Ia pun mulai menjadi pusat perhatian, seakan-akan bertanya ‘” Makhluk apakah yang ada di  balik kain hitam ini?” Benar-benar pemandangan yang sungguh aneh bagi mereka.

Pada suatu hari, beberapa wanita Eropa berkumpul  mendatanginya .Rata-rata mereka adalah para profesor yang bisa dibilang sudah cukup berumur.  Dialogpun akhirnya berlangsung di antara mereka (kebetulan ummu Abdul Aziz mampu berbahasa Inggris). Dengan begitu beraninya salah seorang dari mereka mengajukan sebuah pertanyaan , “ Kamu pasti berpenampialan seperti ini hanya untuk menyembunyikan cacat yang ada di badanmu bukan ? Atau mungkin sekedar menutupi wajahmu  yang nampak tidak cantik ?? Ya kiranya anggapan seperti itulah yang tertanam di benak mereka selama ini terhadapnya.  Ummu Aziz langsung membawa mereka ke salah satu sudut ruangan , lalu membuka cadar yang selama ini menutupinya wajahnya.  Ternyata ia nampak sebagaimana wanita normal pada umumnya , tanpa ada cacat sedikitpun sebagaimana dugaan mereka.  Bahkan mungkin parasnya lebih cantik dari wanita biasanya, insya Allah. Kesempatan ini tentu tidak ia biarkan berlalu begitu saja tanpa menyampaikan sesuatu kebenaran.

Setelah memperlihatkan wajahnya , Ummu Abdul Azis langsung mulai masuk ke pembicaraan inti. Ia jelaskan kepada mereka bagaimana Islam memposisikan wanita . Ia paparkan sejauh mana penghormatan dan aparesiasi agama Allah ini terhadap kaum Hawa selain ia berikan gamabaran tentang ajaran agama Islam secara umum. Tahukah apa yang terjadi setelah itu ? Ya setelah tiga jam berlalu, sebanyak tujuh dari sepuluh Professor wanita tadi langsung mengikrarkan keislaman mereka! Tak lain karena Ummu Abdul Aziz atas izin Allah! Bayangkan tujuh orang Professor masuk Islam hanya dalam kurun waktu tiga jam setelah melakukan dialog.

Sebagai seorang muslimah Ummu abdul Aziz tidak merasa kecil sehingga menjadi asing dengan ajaran agamanya Kehadirannya di negara pengusung faham liberalisme yang jauh dari tata nilai sosial tersebut . Ia tetap berpakaian muslimah sejati dan  tidak mempengaruhinya untuk berganti pakaian super ketat dengan hiasan renda di sana-sini  seperti perhiasan kejahiliyahan layaknya barang murahan.

Tujuh orang professor wanita menyatakan keislaman mereka . Allah pun meninggikan derajat mereka dengan agama ini. Agama yang selama ini menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi sosok seperti Ummu Abdul Aziz.  Figur dari seorang muslimah yang berusaha untuk mengajak umat ini kepada jalan Allah. Ia fungsikan dirinya sebagai media turunnya hidayah bagi siapa yang Allah kehendaki. Dengan cara seperti ini ia mampu merubah pandangan minor mereka terhadap agama yang Allah ridhai ini.

La ilaha ilallah….semoga Allah senantiasa memberikan taufikNya kepada dirimu, Ummu Abdul Aziz. Allah jaga dirimu sehingga benar-benar bermanfaat bagi agama dan ummat ini. ..Amiin.

( Muhammad Saleh Al Qathan) (Lr)

Friday, March 15, 2013

[Amalan Bagi Menajamkan Penglihatan Mata] InsyaAllah..

 
[Amalan Bagi Menajamkan Penglihatan Mata] InsyaAllah..

Saya suka bertanya dengan orang alim dan ustaz2. Amalan ini saya dapat daripada ustaz sebelah biik guru saya (Ustaz Mazni), dipercayai ilmu tok-tok guru di pondok. InsyaALLAH berkesan kurangkan rabun dan tajamkan penglihatan. Saya kongsikan :

Semasa anda semua menjawab azan, apabila terdengar laungan أشهد أن محمد رسول الله, maka hendaklah menjawabnya dan kemudiannya membaca ayat ini:

فَكَشَفۡنَا عَنكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ ٱلۡيَوۡمَ حَدِيدٌ۬

(sila rujuk surah qaf (ق) ayat yg ke 22)

Kemudian hembus dekat belakang ibu jari seperti dlm gambar, lepas tu, gosok belakang ibu jari tu kat kedua2 mata.. (jari kanan= mata kanan, jari kiri=mata kiri)

# Ustaz pesan, ia juga membantu dengan khasiat ayat Al-Quran merawat penyakit mata dan JANGAN salah niat, nanti terbuka hijab nampak benda tak elok. Tapi NIATKAN mata dibuka hijab memilih jalan kebaikan dan pilihan yang terbaik (jodoh,kerjaya, sebagainya)

Sunday, March 3, 2013

Rahsia amalan sunat bersugi


TERBUKTI sunnah Rasulullah s.a.w jika diamalkan pasti membawa manfaat dalam kehidupan seharian. Antara amalan yang terbukti hasil kajian saintifik moden ialah kebaikan bersiwak.

Pakar sains kesihatan moden termasuk dari barat memperakui amalan bersiwak paling baik dalam memantapkan kualiti kesihatan diri. Kajian dilakukan sekumpulan pakar jantung di Veterans General Hospital, Taipei, Taiwan yang diketuai Emily Chen berjaya menyingkap rahsia kebaikan membersihkan gigi.

Dr Chen berkata, membersihkan plak pada gigi secara rutin adalah satu cara mencegah serangan strok dan penyakit jantung. Kajian itu merumuskan, sekiranya terdapat jangkitan pada gigi, keadaan itu boleh memudaratkan seseorang dan meningkatkan risiko diserang penyakit jantung.

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Siwak dapat membersihkan mulut dan membuat Tuhan senang.” (Hadis riwayat Bukhari dari Aisyah).


Begitulah hebatnya Rasulullah sehingga isu pemeliharaan dan penjagaan kesihatan diambil berat terhadap umatnya.

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Kalaulah tidak memberatkan bagi umatku, maka aku akan menyuruh mereka untuk bersiwak setiap kali ingin mendirikan solat.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Imam Abu Daud, Muslim dan an-Nasai meriwayatkan ayah Miqdam bin Syarih ada mengatakan, yang dia bertanyakan kepada Aisyah, apakah yang dilakukan Rasulullah pertama sekali jika memasuki rumah: Jawab Aisyah, “Bersugi (bersiwak)”.

Malah, semasa menjalani ibadah puasa Rasulullah sering bersiwak. Ini adalah sunnah yang bukan saja mendapat pahala, malah mendatangkan manfaat besar untuk kesihatan.

Imam Ahmad melaporkan berkenaan kerapnya Rasulullah bersiwak walaupun dalam keadaan berpuasa. Daripada Ibnu Amir bin Rabi’ah, “Saya melihat Rasulullah berkali-kali bersiwak dalam keadaan berpuasa tidak dapat saya hitung dan kesan.”

Ketika berpuasa, mikrobakteria cepat membiak di dalam mulut seseorang. Sebenarnya dalam mulut manusia terdapat cecair ludah melekat di bahagian lelangit dan gigi.

Keadaan itu akan menghasilkan satu lapisan yang sangat halus sehingga mikrobakteria melekat dengan cepat sekali. Oleh itu, lelangit dan gigi sangat perlu kepada penjagaan sempurna setiap hari.

Mulut dan gigi adalah kurniaan Allah yang diciptakan khusus bagi kemudahan hamba-Nya dalam sistem pencernaan. Rasulullah bersabda yang bermaksud:

“Bersiwaklah (dalam berus) sisa-sisa makanan antara gigi-gigi kerana (membersihkan sisa-sisa makanan semacam itu) termasuk kebersihan dan kebersihan itu membawa kepada iman dan iman itu bersama-sama pemiliknya di syurga.” (Hadis riwayat at-Tabrani)

sumber

Hukum Binaan Di Atas Kubur

sumber :


Oleh : Ustaz Nik Nazimuddin

Siri Pertama

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول لله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم الى يوم

القيامة , أما بعد:

Disusunkan artikel ini bertujuan menerangkan kepada masyarakat tentang beberapa hukum yang dikelirukan oleh sesetengah pihak yang menggunakan zahir lafaz hadis tanpa merujuk kepada huraian ulama mujtahid yang berkelayakkan dalam menghuraikan hukum-hakam yang tersirat di dalam sesebuah hadis. Para ulama yang muktabar memperincikan lagi maksud sebenar huraian imam ikutan mereka itu. Maka mantaplah segala hukum dan terhindar daripada huraian mengikut hawa nafsu, ilmu yang cetek serta akal yang dangkal. Ini kerana, tidak semua diberikan ilmu yang seperti ulama-ulama tersebut. Merekalah pewaris nabi yang beramanah dalam menjaga agama ini.

ان العلماء ورثة الأنبياء ورثوا علما…

Ertinya: “ Sesungguhnya para ulama adalah pewaris kepada para anbia dan mereka itu mewarisi keilmuan.…” (Al-Hadis)

Hukum Binaan Di atas Kubur

Tentang hadis larangan binaan di atas kubur, Imam Syafie menerangkan hukum dan sebab larangan tersebut di dalam kitab Ummnya (bab jenazah):


” ورأيت من الولاة (بمكة) من يهدم ما يبنى فيها ولم أر فقهاء يعيبون عليه ذلك ولأن في ذلك تضييقا على الناس “
Ertinya: “ Aku melihat pembesar di Mekah meruntuhkan binaan-binaan kubur yang ada padanya dan aku tidak melihat para Fuqaha (Mujtahid) yang mencela perbuatan pembesar tersebut dan kerana pada binaan itu menyempitkan tanah perkuburan ke atas orang ramai.”

Katanya lagi: ” فان كانت القبور في الأرض يملكها الموتى في حياتهم أو ورثتهم بعدهم , لم يهدم شىء يبنى منها وانما يهدم ان هدم ما لا يملكه أحد فهدمه لئلا يحجر على الناس “
Ertinya: “ Maka jika adalah perkuburan di dalam tanah yang dimiliki oleh  orang-orang mati semasa hidup mereka atau diwarisi oleh pewaris selepas kematian mereka, nescaya tidak boleh diruntuhi sesuatu binaan di dalamnya. Hanya diruntuhi sesuatu binaan di dalam tanah yang tidak dimiliki oleh sesiapa pun maka hendaklah diruntuhinya supaya tidak menegah orang ramai untuk tanam mayat yang lain.”

Bila ditanyakan fatwa kepada Ibnu Hajar Haitami tentang suatu binaan, beliau menghukumkan haram binaan itu dan menyatakan sebab ( ألعلة ) pengharaman tersebut dengan katanya (Fatawa Kubra, bab jenazah):


” ولوجود علة تحريم البناء في ذلك وهى تحجير الأرض على من يدفن بعد بلاء الميت اذ الغالب أن البناء يمكث الى ما بعد البلى وأن الناس يهابون فتح القبر المبني فكان في البناء تضييق للمقبرة ومنع الناس من الانتفاع بها فحرم “
Ertinya: “Kerana terdapat sebab pengharaman binaan pada binaan yang berkenaan iaitu menegah tanah kubur daripada ditanamkan mayat lain selepas hancur mayat di dalam kubur itu. Ini kerana, kebiasaannya binaan di atas kubur menjadi kekal sehinggakan selepas masa hancurnya mayat, dan orang ramai takut hendak membuka kubur yang dibinakan di atasnya. Maka binaan itu menyempitkan tanah perkuburan dan menegah orang ramai daripada mengambil manfaat dengannya lalu ia menjadi haram.”

Beberapa perkara yang difahami daripada huraian Imam Syafie adalah:-

1)     Binaan di dalam tanah perkuburan milik sendiri

2)     Binaan di dalam tanah perkuburan disabilkan

3)     Binaan yang menyebabkan:

a) terhalang daripada ditanamkan mayat lain (bila berlaku   kesesakan)

b) menyempitkan tanah perkuburan dengan perkara yang berlebih-lebihan

Para ulama yang mengikuti Imam Syafie menghuraikan maksud sebenar perkataan Imam mereka tentang Hukum Binaan tersebut, adalah seperti berikut:-

Maksud sebenar Binaan tersebut dan dimakruhkan di tanah perkuburan milik sendiri

Binaan yang di maksudkan itu ialah binaan yang sama betul dengan liang lahad mayat (tidak memakan ruang yang terlebih luas) dan juga binaan yang memakan ruang yang terlebih luas daripada itu seperti kubah, masjid, bilik dan lain-lain. Binaan tersebut dimakruhkan di dalam kawasan tanah kubur milik persendirian. Ini adalah pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafie.

Tersebut di dalam kitab Tuhfah bagi Ibnu Hajar Haitami ketika mensyarahkan matan Minhaj Imam Nawawi (bab jenazah) :

” (ويكره تجصيص القبر والبناء) عليه في حريمه وخارجه, نعم ان خشي نبش أو حفر سبع أو هدم سيل لم يكره “
Ertinya: “{Dimakruhkan (dalam tanah perkuburan milik sendiri) memutihkan kubur dengan kapur dan membuat binaan} di atas kubur pada permukaan liang lahadnya dan ruang yang terlebih luas daripada itu, sungguh pun begitu tiada makruh jika takut dibongkari (oleh pencuri kain kapan atau dibongkari untuk ditanam jenazah lain sebelum hancur jasadnya), digali binatang buas atau diruntuhi air banjir yang deras.”

As-Syarwani menjelaskan lagi perkataan Ibnu Hajar itu di dalam Hasyiahnya:


” أي ويكره على القبر في حريمه وهو ما قرب منه جدا وخارج الحريم هذا في غير المسبلة “
Ertinya: “ Iaitu dimakruhkan binaan di atas kubur pada permukaan liang kubur iaitu ruang atau tanah yang betul-betul hampir dengan liang lahad kubur dan dimakruhkan juga pada ruang atau tanah yang terlebih luas daripada liang kubur tersebut. Hukum makruh terbabit adalah di dalam tanah perkuburan yang bukan disabilkan

( iaitu tanah perkuburan milik sendiri).”

Terdapat Pendapat yang lemah di dalam mazhab Syafie yang menyatakan bahawa dimakruhkan binaan yang tidak memakan ruang yang terlebih luas daripada permukaan liang lahad kubur dan diharamkan binaan yang memakan ruang yang terlebih luas daripadanya, sama ada binaan berkenaan di dalam tanah perkuburan milik sendiri atau tanah perkuburan yang disabilkan.

Di dalam kitab Murghni Muhtaj, bab jenazah: “ Sesetengah ulama mazhab Syafie menyesuaikan perkataan Imam Nawawi di dalam matan Minhaj dan perkataannya di dalam Majmuk dan lain-lain, dengan memberi maksud bahawa dimakruhkan apabila dibina hanya di atas kubur, dengan makna  adalah binaan itu berada sama betul dengan permukaan liang kubur. Diharamkan binaan itu apabila didirikan di atas kubur kubah atau bilik yang didiami. Pendapat yang muktamad adalah haram semata-mata (tanpa membezakan di antara binaan sama betul dengan liang lahad dan binaan yang terlebih luas daripada itu).”

Di atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada di dalam  tanah perkuburan milik sendiri

Binaan seperti kubah, bilik, masjid dan lain-lain, tiada haram serta tiada makruh sekiranya dibina di atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada di dalam tanah perkuburan milik sendiri. Tujuan didirikan binaan tersebut adalah untuk menggalakkan orang ramai datang menziarahi kubur mereka dan sempena mengambil berkat.

Berkata Ibnu Hajar di dalam Tuhfahnya, bab jenazah (jilid 3, m/s 226):


” قال بعضهم الا في صحابي ومشهور الولاية فلا يجوز وان انمحق ويؤيده تصريحهم بجواز الوصية بعمارة قبور الصلحاء أي في غير المسبلة على ما يأتي في الوصية لما فيه من احياء الزيارة والتبرك “
Ertinya: “ Sesetengah ulama syafie berkata: “ Melainkan pada kubur sahabat dan mereka yang masyhur dengan kewalian maka tiada harus membongkarkan kuburnya, sekalipun telah hancur jasadnya. Pendapat mereka dikuatkan dengan kenyataan fuqaha bahawa diharuskan berwasiat supaya dibangunkan binaan di atas kubur orang yang soleh, iaitu di dalam tanah perkuburan yang bukan disabilkan, mengikut keterangan yang akan datang pada bab wasiat. Keharusan itu bertujuan memakmurkan kubur mereka dengan ziarah dan sempena mengambil berkat.”

Binaan di dalam tanah perkuburan yang disabilkan

Di dalam tanah perkuburan yang disabilkan atau diwakafkan, haram membina kubah, bilik, rumah atau masjid di atasnya. Wajib diruntuhkan binaan tersebut walaupun didirikan atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada. Ini adalah pendapat yang muktamad di dalam mazhab syafie.

Tersebut di dalam kitab Nihayah bagi Syeikh Ramli ketika mensyarahkan Minhaj Imam Nawawi, bab jenazah:


“( ولو بني في مقبرة مسبلة, هدم) البناء وجوبا لحرمته ولما فيه من تضييق على الناس وسواء أبني قبة أو بيتا أو مسجدا أم غيرها “
Ertinya: “ (Jika dibinakan di atas kubur di dalam kawasan perkuburan yang disabilkan nescaya mesti diruntuhkan) binaan itu sebagai hukum yang wajib. Ini kerana binaan tersebut adalah haram dan kerana terdapat padanya sebab (العلة) pengharaman iaitu menyempitkan (tanah perkuburan yang disabilkan). Hukumnya tetap seperti itu, sama ada dibinakan kubah, bilik (rumah), masjid atau lainnya.”

Diharamkan binaan tersebut walaupun di atas kubur  para nabi, wali, ulama dan lain-lain di dalam tanah perkuburan yang disabilkan sebagaimana kenyataan Ibnu Hajar di dalam Tuhfahnya, bab jenazah (jilid 3, m/s 226) yang telah lalu mengikut beliau binaan seperti kubah, bilik, rumah dan masjid tidak dimakruhkan di atas kubur mereka sekiranya di dalam kawasan tanah perkuburan milik persendirian. Maka difahami daripada perkataan beliau bahawa binaan tersebut diharamkan di dalam tanah perkuburan yang disabilkan.

Binaan yang diharuskan di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan di sabilkan

Binaan yang diharuskan di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan di sabilkan ialah hanya binaan seperti simen, marmar dan lain-lain dimana binaan itu tidak memakan ruang yang terlebih luas daripada liang lahad kubur.

Ini ada dinyatakan di dalam Nihayah karangan Syeikh Ramli bab jenazah (jili 3, m/s 41,عند قول المتن لا للتكفين على الأصح ) ketika membahaskan larangan membongkar kubur sahabat dan wali setelah hancur jasad mereka untuk ditanam jenazah lain. Kerana larangan inilah, diharuskan binaan di atas liang lahad kubur mereka supaya tidak dibongkarkan untuk ditanam jenazah lain.Beliau menukilkan perkataan Muwaffiq bin Hamzah yang mengharuskan berwasiat untuk membina binaan di atas kubur sahabat dan wali bertujuan memakmurkan kubur mereka dengan menziarahi dan mengambil berkat.

Binaan yang dimaksudkan oleh nukilan Syeikh Ramli itu ialah hanya binaan di atas liang lahad kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya sahaja seperti disimen dan dipasangkan marmar, bukan binaan yang memakan ruang lebih luas daripada itu, seperti kubah, bilik, rumah, masjid dan lain-lain. Ini sebagaimana yang telah diterangkan oleh Al-Allamah Ali Syabramalisi di dalam Hasyiah Nihayah (jilid 3 : m/s 41 bab jenazah) dengan katanya:


” والمراد بعمارة ذلك بناء محل الميت فقط لا بناء القباب ونحوها “
Ertinya: “ Dimaksudkan dengan mendirikan binaan tersebut ialah binaan  di tempat liang lahad simati (nabi, wali, ulama dan seumpamanya) sahaja, bukannya binaan segala kubah dan seumpamanya.”

Al-Allamah Ali Syabramalisi di dalam Hasyiah  Nihayah juga menegaskan:

 “ Pendapat yang muktamad ialah apa yang dikatakan oleh Syeikh Ramli di dalam bab jenazah iaitu harus berwasiat untuk meratakan tanah kubur para nabi dan orang soleh serta membangunkan binaan (yakni binaan seperti simen, marmar) di atas kubur mereka di dalam tanah kubur yang disabilkan.”

(حاشية الشرواني على التحفة : كتاب الوصايا وما يتعلق به عند قول المتن واذا أوصى لجهة عامة فالشرط أن لا تكون معصية : ج 3/ ص 6)

Terdapat pendapat yang lemah di dalam mazhab syafie bahawa diharuskan binaan yang memakan ruang yang terlebih luas seperti kubah, bilik dan lain-lain di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan yang disabilkan sebagaimana yang tersebut di dalam kitab ‘Iaanah AtThalibin (Fasal : solat ke atas simati, jilid 2 : m/s120) :

” وقال البجيرمي : واستثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوها (برماوي) , وعبارة الرحماني : نعم قبور الصالحين يجوز بناؤها ولو قبة لاحياء الزيارة والتبرك , قال الحلبي : ولو في مسبلة وأفتى به وقد أمر به الشيخ الزيادي مع ولايته…”

Ertinya: “ Al-Bujairimi berkata: Sesetengah ulama mazhab syafie mengecualikan (daripada hukum haram) kubur para nabi, syuhada, orang-orang soleh dan seumpamanya (nukilan Barmawi). Teks Ar-Rahmani menyebut: Sungguhpun begitu, kubur orang-orang soleh diharuskan membina di atasnya, sekalipun binaan kubah bertujuan memakmurkan dengan ziarah dan mengambil berkat. Al-Halabi berkata: Walaupun di dalam tanah perkuburan yang disabilkan dan beliau berfatwa sebegitu. Sesungguhnya Syeikh Ziyadi memerintahkan supaya didirikan binaan tersebut ketika beliau berkuasa…..”

Sumber : http://www.al-bakriah.com.my/index.php?option=com_content&view=article&id=28%3Ahukum-binaan-di-atas-kubur&catid=9%3Asoal-jawab-agama&Itemid=25

Tambahan :

1. Hukum Binaan Di Atas Tanah Perkuburan Fatwa Negeri Kedah

2. Hukum Menambak Kubur Fatwa Brunei Darussalam

Wednesday, February 13, 2013

Kitab-kitab Mawlid Sepanjang Zaman

sumber




Oleh : Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni (Jabatan al Quran dan As Sunnah & Institut Kajian Hadith (INHAD) KUIS


Meneliti kembali sejarah, ditemukan ramai ulama yang begitu mengambil berat berhubung topik mawlid Nabi SAW. Topik mawlid sebenarnya sebahagian daripada ilmu sirah Nabi SAW. Namun, lama-kelamaan ia menjadi satu disiplin penulisan yang mempunyai konsep sedikit berbeza dengan kitab-kitab sirah. Di mana banyak kitab-kitab mawlid ini ditulis dengan gubahan gaya bahasa yang tinggi, puitis dan berima.


Mawlid Nabi SAW merupakan suatu topik yang dapat dianggap evergreen di sepanjang zaman. Ini kerana ia datang pada setiap tahun pada bulan Rabiul Awwal. Soal setuju atau tidak setuju menyambutnya menjadi isu yang masyhur di kalangan ahli ilmu. Bagaimanapun, menceritakan keindahan peribadi dan riwayat hidup Nabi SAW bagi orang yang cinta tidak akan mendatangkan rasa jemu dan bosan. Apatah lagi seseorang itu akan bersama dengan orang yang dikasihi dan dicintai di akhirat kelak.


Berdasarkan kajian, didapati amat banyak kitab-kitab yang telah dikarang oleh para alim ulama berkaitan mawlid Nabi SAW. Berikut adalah sebahagian di antara kitab-kitab berkenaan yang disusun menurut kronologi:


Abad Ketiga Hijrah


Menurut al-‘Allamah Sayyid Ahmad al-Ghumari di dalam kitabnya Ju’nah al-‘Attar (hlm. 12-13):


1- “Orang pertama yang aku tahu telah menyusun mengenai mawlid ialah Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, pengarang kitab al-Maghazi dan kitab al-Futuh, meninggal dunia tahun 206 H, dan ada yang menyebut 209 H. Beliau mempunyai dua buah kitab tentangnya, iaitu kitab al-Mawlid al-Nabawi dan kitab Intiqal al-Nur al-Nabawi, sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Suhaili di dalam al-Rawdh sebahagian daripadanya.

2- Demikian juga telah menyusun mengenai mawlid dari kalangan ulama terdahulu; al-Hafiz Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘A’id, pengarang al-Sirah yang masyhur, meninggal dunia tahun 233 H.

3- Dan al-Hafiz Abu Bakr ibn Abi ‘Asim, pengarang banyak kitab, meninggal dunia tahun 287 H” – tamat nukilan.


Kitab al-Hafiz Abu Bakr ibn Abi ‘Asim ini pernah diriwayatkan oleh Imam al-Ghazali. Kata muridnya al-Hafiz ‘Abd al-Ghafir al-Farisi (w. 529H) mengenai gurunya itu: “Beliau telah mendengar berbagai-bagai hadis secara formal bersama-sama para fuqaha’. Antara yang saya temukan bukti sama‘nya ialah apa yang beliau dengar daripada kitab Mawlid al-Nabi SAW karangan Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr ibn Abi ‘Asim al-Syaybani, riwayat al-Imam Syeikh Abu Bakr Muhammad bin al-Harith al-Asbahani, dari Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja‘far ibn Hayyan, dari pengarangnya. Imam al-Ghazali telah mendengarnya dari Syeikh Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Khawari - Khawar Tabaran - rahimahullah, bersama-sama dua orang anaknya, Syeikh ‘Abd al-Jabbar dan Syeikh ‘Abd al-Hamid serta sekumpulan para fuqaha’… Kitab tersebut di dalam dua juzuk yang didengar oleh beliau”. (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/212-214)


Abad Keempat dan Kelima Hijrah


Karya-karya mawlid di dalam abad keempat dan abad kelima setakat ini belum lagi ditemukan oleh al-faqir penulis. Jika ada, mohon diberitahu. Namun, penulisan mengenai mawlid ini berterusan di kalangan ramai ulama pada abad-abad kemudiannya.


Abad Keenam Hijrah


4- al-Durr al-Munazzam fi Mawlid al-Nabi al-A‘zam oleh al-‘Allamah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Mu‘id bin ‘Isa al-Uqlisyi al-Andalusi (w. 550H).

5- al-‘Arus oleh al-Hafiz Abu al-Faraj ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali al-Hanbali, yang terkenal dengan panggilan Ibnu al-Jawzi (w. 597H). Kitab ini telah disyarah oleh Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Jawi (w. 1315H) dengan judul: (بغية العوام في شرح مولد سيد الأنام عليه الصلاة والسلام المنسوبة لابن الجوزي) atau (البلوغ الفوزي لبيان ألفاظ مولد ابن الجوزي).


Abad Ketujuh Hijrah


6- al-Tanwir min Mawlid al-Siraj al-Munir oleh al-Hafiz Abu al-Khattab ibn Dihyah al-Kalbi (w. 633 H). Beliau telah menghadiahkan kitab ini kepada al-Malik al-Muzaffar, raja Arbil yang selalu menyambut malam mawlid Nabi SAW dan siangnya dengan sambutan meriah yang tidak pernah didengar seumpamanya. Baginda telah membalas beliau dengan ganjaran hadiah yang banyak.

7- (المولد النبوي) oleh al-Syeikh al-Akbar Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali ibn al-‘Arabi al-Hatimi (w. 638H).

8- ‘Urfu al-Ta‘rif bi al-Mawlid al-Syarif oleh Imam al-Hafiz Abu al-Khair Syams al-Din Muhammad bin ‘Abd Allah al-Jazari al-Syafi‘i (w. 660H).

9- (الدر النظيم في مولد النبي الكريم) oleh Syeikh Abu Ja‘far ‘Umar bin Ayyub bin ‘Umar ibn Arsalan al-Turkamani al-Dimasyqi al-Hanafi, yang dikenali dengan nama Ibn Taghru Bik (w. 670H).

10- (ظل الغمامة في مولد سيد تهامة) oleh Syeikh Ahmad bin ‘Ali bin Sa‘id al-Gharnati al-Maliki (w. 673H).

11- (الدر المنظم في مولد النبي المعظم) oleh al-‘Allamah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Husain al-‘Azfi. Ia disempurnakan oleh anaknya, Abu al-Qasim Muhammad (w. 677H).


Abad Kelapan Hijrah


12- (المورد العذب المعين/ الورد العذب المبين في مولد سيد الخلق أجمعين) oleh Syeikh Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-‘Attar al-Jaza’iri (w. 707H).

13- (المنتقى في مولد المصطفى) oleh Syeikh Sa‘d al-Din Muhammad bin Mas‘ud al-Kazaruni (w. 758H). Ia di dalam bahasa Parsi, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh anaknya, Syeikh ‘Afif al-Din.

14- (الدرة السنية في مولد خير البرية) oleh al-Hafiz Salah al-Din Khalil ibn Kaykaldi al-‘Ala’i al-Dimasyqi (w. 761H).

15- Mawlid al-Nabi SAW oleh Imam al-Hafiz ‘Imad al-Din Isma‘il bin ‘Umar ibn Kathir (w. 774H). Ia telah ditahqiq oleh Dr. Solah al-Din al-Munjid. Ia juga telah disyarahkan oleh al-Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafiz, mufti Tarim, dan diberi komentar oleh al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Syria tahun 1387 H.

16- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Sulayman bin ‘Awadh Basya al-Barusawi al-Hanafi (w. sekitar 780H), imam dalam wilayah Sultan Bayazid al-‘Uthmani.

17- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad ibn ‘Abbad al-Randi al-Maliki (w. 792H), pengarang Syarah al-Hikam.


Abad Kesembilan Hijrah


18- al-Mawrid al-Hani fi al-Mawlid al-Sani oleh al-Hafiz ‘Abd al-Rahim bin Husain bin ‘Abd al-Rahman, yang terkenal dengan nama al-Hafiz al-Iraqi (w. 808 H).

19- (النفحة العنبرية في مولد خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Majd al-Din Muhammad bin Ya‘qub al-Fairuz abadi (w. 817H).

20- (جامع الآثار في مولد المختار) oleh al-Hafiz Muhammad ibn Nasir al-Din al-Dimasyqi (w. 842H). Ia di dalam 3 juzuk. Beliau juga telah menulis dua buah kitab mawlid lain, iaitu: (المورد الصادي في مولد الهادي) dan (اللفظ الرائق في مولد خير الخلائق).

21- (تحفة الأخبار في مولد المختار) oleh al-Hafiz Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852H), dicetak di Dimasyq tahun 1283H.

22- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Afif al-Din Muhammad bin Muhammad bin ‘Abd Allah al-Husayni al-Tibrizi (w. 855H).

23- (الدر المنظم في مولد النبي المعظم) oleh Syeikh Syams al-Din Muhammad bin ‘Uthman bin Ayyub al-Lu’lu’i al-Dimasyqi al-Hanbali (w. 867H). Ia di dalam 2 jilid, dan kemudian telah diringkaskan dengan judul (اللفظ الجميل بمولد النبي الجليل).

24- (درج الدرر في ميلاد سيد البشر) oleh Syeikh Asil al-Din ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Latif al-Husayni al-Syirazi (w. 884H).

25- (المنهل العذب القرير في مولد الهادي البشير النذير صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Abu al-Hasan ‘Ali bin Sulaiman bin Ahmad al-Mardawi al-Maqdisi (w. 885H), syeikh Hanabilah di Dimasyq.

26- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-Sayyid ‘Umar bin ‘Abd al-Rahman bin Muhammad Ba‘alawi al-Hadhrami (w. 889H).


Abad Kesepuluh Hijrah


27- al-Fakhr al-‘Alawi fi al-Mawlid al-Nabawi oleh al-Hafiz Syams al-Din Muhammad bin ‘Abd al-Rahman yang terkenal dengan nama al-Hafiz al-Sakhawi (w. 902H).

28- (درر البحار في مولد المختار) oleh Syeikh Syihab al-Din Ahmad bin ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Karim al-Nabulusi, yang masyhur dengan nama Ibn Makkiyyah (w. 907H).

29- Al-Mawarid al-Haniyyah fi Mawlid Khair al-Bariyyah oleh al-‘Allamah al-Sayyid ‘Ali Zain al-‘Abidin al-Samhudi al-Hasani (w. 911H).

30- (المرود الأهنى في المولد الأسنى) oleh Syeikhah ‘A’isyah bint Yusuf al-Ba‘uniyyah (w. 922H). Barangkali ini satu-satunya kitab mawlid karya seorang syeikhah!

31- (الكواكب الدرية في مولد خير البرية) oleh Syeikh Taqiy al-Din Abu Bakr bin Muhammad bin Abi Bakr al-Hubaisyi al-Halabi al-Syafi`i (w. 930H).

32- Mawlid al-Nabi SAW oleh Mulla ‘Arab al-Wa‘iz (w. 938H).

33- Mawlid al-Nabi SAW atau Mawlid al-Daiba‘i oleh al-Muhaddith Syeikh ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali bin Muhammad bin 'Umar al-Daiba‘i al-Syafi`i (w. 944H), murid al-Hafiz al-Sakhawi. Mawlid al-Daiba‘i ini antara kitab mawlid yang banyak dibaca orang sehingga kini. Ia telah ditahqiq dan ditakhrij hadisnya oleh al-‘Allamah Dr. al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

34- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh ‘Abd al-Karim al-Adranahwi al-Khalwati (w. 965H).

35- Itmam al-Ni‘mah ‘ala al-‘Alam bi Mawlid Sayyid Walad Adam dan al-Ni‘mah al-Kubra ‘ala al-‘Alam fi Mawlid Sayyid Walad Adam oleh Imam al-‘Allamah Ahmad ibn Hajar al-Haytami al-Makki al-Syafi‘i (w. 974H). Ia telah disyarah oleh beberapa ulama, antaranya oleh:

- Syeikh Muhammad bin ‘Ubadah bin Barri al-‘Adawi al-Maliki (w. 1193H) (حاشية على مولد النبي لابن حجر).

- Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri al-Syafi‘i (w. 1277H), Syeikhul Azhar dengan kitabnya (تحفة البشر على مولد ابن حجر).

- Syeikh Hijjazi bin ‘Abd al-Muttalib al-‘Adawi al-Maliki (w. sesudah 1211H) (حاشية على مولد الهيثمي).

- Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Mansuri al-Syafi‘i al-Khayyat (اقتناص الشوارد من موارد الموارد في شرح مولد ابن حجر الهيتمي), selesai tahun 1166H.

Ibn Hajar al-Haytami juga telah mengarang kitab (تحرير الكلام في القيام عن ذكر مولد سيد الأنام) tentang masalah bangun berdiri ketika bermawlid.

36- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad al-Khatib al-Syirbini al-Syafi‘i (w. 977H).

37- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Syeikh Najm al-Din Muhammad bin Ahmad bin ‘Ali al-Ghiti al-Syafi‘i (w. 981H). Ia telah disyarahkan oleh Syeikh ‘Ali bin ‘Abd al-Qadir al-Nabtini al-Hanafi (w. 1061H) (شرح على مولد النجم الغيطي).


Abad Kesebelas Hijrah


38- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Syams al-Din Ahmad bin Muhammad bin ‘Arif al-Siwasi al-Hanafi (w. 1006H).

39- al-Mawrid al-Rawi fi al-Mawlid al-Nabawi oleh al-‘Allamah Nur al-Din ‘Ali bin Sultan al-Qari al-Harawi al-Hanafi (w. 1014H). Kitab ini telah ditahqiq oleh al-‘Allamah Dr. al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

40- (المنتخب المصفي في أخبار مولد المصطفى) oleh al-‘Allamah al-Sayyid ‘Abd al-Qadir bin Syeikh bin ‘Abd Allah bin Syeikh al-‘Aidarusi (w. 1038H).

41- (مورد الصفا في مولد المصطفى صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Muhammad ‘Ali bin Muhammad Ibn ‘Allan al-Bakri al-Siddiqi al-Makki al-Syafi‘i (w. 1057H).


Abad Kedua Belas Hijrah


42- (الجمع الزاهر المنير في ذكر مولد البشير النذير) oleh Syeikh Muhammad bin Nasuh al-Askadari al-Khalwati, yang masyhur dengan nama Nasuhi al-Rumi (w. 1130H).

43- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad bin Sa‘id, yang masyhur dengan nama Ibn ‘Aqilah al-Makki (w. 1150H).

44- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh Sulaiman bin ‘Abd al-Rahman bin Solih al-Rumi (w. 1151H).

45- (المورد الروي في المولد النبوي) oleh Syeikh Qutb al-Din Mustafa bin Kamal al-Din bin ‘Ali al-Siddiqi al-Bakri al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1162H). Beliau turut menyusun kitab (منح المبين القوي في ورد ليلة مولد النبوي).

46- (الكلام السني المصفى في مولد المصطفى) oleh Syeikh al-Qurra’ ‘Abdullah Hilmi bin Muhammad bin Yusuf al-Hanafi al-Muqri al-Rumi, yang masyhur dengan nama Yusuf Zadah (w. 1167H).

47- (رسالة في المولد النبوي) oleh Syeikh Hasan bin ‘Ali bin Ahmad al-Mudabighi al-Syafi‘i (w. 1170H). Kitab ini telah diberi hasyiah oleh:

- Syeikh ‘Umar bin Ramadhan bin Abi Bakr al-Thulathi (w. sesudah 1164H).

- Syeikh ‘Abd al-Rahman bin Muhammad al-Nahrawi al-Muqri (w. 1210H).

48- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Ahmad bin ‘Uthman al-Diyar bakri al-Amidi al-Hanafi (w. 1174H).

49- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad Nida’i al-Kasyghari al-Naqsyabandi al-Zahidi (w. 1174H).

50- Mawlid al-Barzanji atau (عقد الجوهر في مولد النبي الأزهر) oleh al-Sayyid Ja‘far bin Hasan al-Barzanji (w. 1177H), mufti Syafi‘iyyah di Madinah. Kitab ini adalah antara kitab mawlid yang termasyhur. Saudara pengarangnya, al-Sayyid ‘Ali bin Hasan al-Barzanji (w. 11xxH) telah menggubahnya menjadi nazam. Ia juga telah diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antaranya:

- Al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin Ahmad ‘Illisy (atau ‘Ulaisy) al-Syazili al-Maliki (w. 1299H) dengan judul (القول المنجي حاشية على مولد البرزنجي).

- al-Sayyid Ja‘far bin Isma‘il al-Barzanji (w. 1317H), mufti Syafi‘iyyah di Madinah dengan judul (الكوكب الأنور على عقد الجوهر في مولد النبي الأزهر).

- Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H) dengan judul (مدارج الصعود إلى اكتساء البرود) atau (أساور العسجد على جوهر عقد للبرزنجى) dan juga (ترغيب المشتاقين لبيان منظومة السيد البرزنجي في مولد سيد الأولين والآخرين).

- Syeikh ‘Abd al-Hamid bin Muhammad ‘Ali Kudus yang diberi judul: Mawlid al-Nabi SAW ‘ala Nasij al-Barzanji.

- Syeikh Mustafa bin Muhammad al-‘Afifi al-Syafi‘i yang diberi judul (فتح اللطيف شرح نظم المولد الشريف), dicetak di Mesir tahun 1293H.

Kitab al-Barzanji ini juga telah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan berbagai bahasa lain.

51- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-Sayyid Muhammad bin Husain al-Jufri al-Madani al-‘Alawi al-Hanafi (w. 1186H).

52- (المولد الشريف) oleh Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Maghribi al-Tafilati al-Khalwati (w. 1191H), mufti Hanafiyyah di al-Quds.

53- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Mun‘im al-Khayyat (w. 1200H), mufti wilayah Sa‘id, Mesir.

54- (الدر الثمين في مولد سيد الاولين والآخرين) oleh Syeikh Muhammad bin Hasan bin Muhammad al-Samannudi al-Syafi‘i, yang masyhur dengan nama al-Munayyir (w. 1199H).

55- (الدر المنظم شرح الكنز المطلسم في مولد النبي المعظم) oleh Syeikh Abu Syakir ‘Abdullah Syalabi, selesai tahun 1177H.


Abad Ketiga Belas Hijrah


56- (المولد النبوي) oleh Imam Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad al-‘Adawi al-Dardir al-Maliki (w. 1201H). Kitab beliau ini telah diberi hasyiah oleh:

- al-‘Allamah Muhammad al-Amir al-Saghir bin Muhammad al-Amir al-Kabir al-Maliki (w. sesudah 1253H) (حاشية على مولد الدردير).

- al-‘Allamah Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri al-Syafi‘i (w. 1277H).

- Syeikh Yusuf bin ‘Abd al-Rahman al-Maghribi (w. 1279H), bapa Muhaddith al-Syam Syeikh Badr al-Din al-Hasani dengan judul (فتح القدير على ألفاظ مولد الشهاب الدردير).

57- (تذكرة أهل الخير في المولد النبوي) oleh al-Sayyid Muhammad Syakir bin ‘Ali al-‘Umari al-Fayyumi, yang masyhur dengan nama al-‘Aqqad al-Maliki (w. 1202H).

58- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh Najib al-Din ‘Abd al-Qadir bin ‘Izz al-Din Ahmad al-Qadiri al-Hanafi yang masyhur dengan nama Asyraf Zadah al-Barsawi (w. 1202H).

59- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Ali bin ‘Abd al-Barr al-Husaini al-Wana’i al-Syafi‘i (w. 1212H), murid al-Hafiz Murtadha al-Zabidi.

60- (منظومة في مولد النبي صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Mustafa Salami bin Isma‘il Syarhi al-Azmiri (w. 1228H).

61- (الجواهر السنية في مولد خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin ‘Ali al-Syanawani al-Syafi‘i (w. 1233H).

62- (مطالع الأنوار في مولد النبي المختار صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh ‘Abdullah bin ‘Ali Suwaydan al-Damliji al-Syazili al-Syafi‘i (w. 1234H).

63- (تأنيس أرباب الصفا في مولد المصطفى) oleh al-Sayyid ‘Ali bin Ibrahim bin Muhammad bin Isma‘il al-Amir al-San‘ani al-Zaydi (w. sekitar 1236H).

64- (تنوير العقول في أحاديث مولد الرسول) oleh Syeikh Muhammad Ma‘ruf bin Mustafa bin Ahmad al-Husaini al-Barzanji al-Qadiri al-Syafi‘i (w. 1254H).

65- (مولد نبوي نظم) oleh Syeikh Muhammad Abu al-Wafa bin Muhammad bin ‘Umar al-Rifa‘i al-Halabi (w. 1264H).

66- (السر الرباني في مولد النبي) oleh Syeikh Muhammad ‘Uthman bin Muhammad al-Mirghani al-Makki al-Husaini al-Hanafi (w. 1268H).

67- (قصة المولد النبوي) oleh Syeikh Muhammad bin ‘Abd Allah Talu al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1282H).

68- Al-Mawrid al-Latif fi al-Mawlid al-Syarif oleh Syeikh ‘Abd al-Salam bin ‘Abd al-Rahman al-Syatti al-Hanbali (w. 1295H). Ia berbentuk gubahan qasidah ringkas.

69- (مطالع الجمال في مولد إنسان الكمال) oleh Syeikh Muhammad bin al-Mukhtar al-Syanqiti al-Tijani (w. 1299H).

70- (سمط جوهر في المولد النبوي) oleh Syeikh Ahmad ‘Ali Hamid al-Din al-Surati al-Hindi (w. 1300H). Beliau mengarang kitab ini dalam sekitar 100 muka surat tanpa menggunakan huruf alif!

71- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Ahmad bin Qasim al-Maliki al-Hariri. Kitab ini telah disyarah oleh:

- Syeikh Abu al-Fawz Ahmad bin Muhammad Ramadhan al-Marzuqi al-Husayni al-Maliki (masih hidup tahun 1281H) dengan judul: (بلوغ المرام لبيان ألفاظ مولد سيد الأنام), cetakan Mesir tahun 1286H.

- Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H) dengan judul: (فتح الصمد العالم على مولد الشيخ أحمد بن قاسم), cetakan Mesir tahun 1292H.

72- Mawlid Nabi SAW oleh al-‘Allamah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani (w. 1263 @ 1297H), diselesaikan pada tahun 1230H. Beliau turut menyusun sebuah lagi kitab mawlid yang hanya diberi tajuk al-Muswaddah, diselesaikan pada tahun 1234H. (Wawasan Pemikiran Islam 4 - Hj. Wan Mohd. Saghir, h. 132)

73- Kanz al-’Ula [fi Mawlid al-Mustafa?] oleh Syed Muhammad bin Syed Zainal Abidin al-‘Aidarus yang terkenal dengan nama Tokku Tuan Besar Terengganu (w. 1295H).


Abad Keempat Belas Hijrah


74- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah al-Muhaddith al-Sufi Abu al-Mahasin Muhammad bin Khalil al-Qawuqji al-Tarabulusi (w. 1305H).

75- (سرور الأبرار في مولد النبي المختار صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh ‘Abd al-Fattah bin ‘Abd al-Qadir al-Khatib al-Dimasyqi al-Syafi‘i (w. 1305H).

76- (العلم الأحمدي في المولد المحمدي) oleh Syeikh Syihab al-Din Ahmad bin Ahmad Isma‘il al-Hilwani al-Khaliji al-Syafi‘i (w. 1308H).

77- (منظومة في مولد النبي صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Ibrahim bin ‘Ali al-Ahdab al-Tarabulusi al-Hanafi (w. 1308H).

78- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad Hibatullah bin ‘Abd al-Qadir al-Khatib al-Dimasyqi al-Syafi‘i (w. 1311H).

79- (الإبريز الداني في مولد سيدنا محمد السيد العدناني صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H). Beliau juga telah mengarang kitab:

- (بغية العوام في شرح مولد سيد الأنام عليه الصلاة والسلام المنسوبة لابن الجوزي),

- (مدارج الصعود إلى اكتساء البرود) atau (أساور العسجد على جوهر عقد للبرزنجى) dan juga

- (ترغيب المشتاقين لبيان منظومة السيد البرزنجي في مولد سيد الأولين والآخرين).

80- (تحفة العاشقين وهدية المعشوقين في شرح تحفة المؤمنين في مولد النبي الأمين - صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Muhammad Rasim bin ‘Ali Ridha al-Mullatiyah-wi al-Hanafi al-Mawlawi (w. 1316H).

81- (قدسية الأخبار في مولد أحمد المختار) oleh Syeikh Muhammad Fawzi bin ‘Abd Allah al-Rumi (w. 1318H), mufti Adrana. Beliau turut menyusun (إثبات المحسنات في تلاوة مولد سيد السادات).

82- (حصول الفرج وحلول الفرح في مولد من أنزل عليه ألم نشرح) oleh Syeikh Mahmud bin ‘Abd al-Muhsin al-Husaini al-Qadiri al-Asy‘ari al-Syafi‘i al-Dimasyqi, yang masyhur dengan nama Ibn al-Mawqi‘ (w. 1321H).

83- Simt al-Durar fi Akhbar Mawlid Khair al-Basyar min Akhlaq wa Awsaf wa Siyar atau Maulid al-Habsyi oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (w. 1333H).

84- (لسان الرتبة الأحدية) oleh Syeikh Mahmud bin Muhyi al-Din Abu al-Syamat al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1341H). Ia sebuah kitab mawlid menurut lisan ahli sufi.

85- al-Yumnu wa al-Is‘ad bi Mawlid Khair al-‘Ibad oleh al-‘Allamah al-Muhaddith Syeikh Muhammad bin Ja‘far bin Idris al-Kattani al-Hasani (w. 1345H), cetakan Maghribi tahun 1345H.

86- Jawahir al-Nazm al-Badi‘ fi Mawlid al-Syafi‘ oleh al-‘Allamah Syeikh Yusuf bin Isma‘il al-Nabhani (w. 1350H).

87- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh Muhammad Sa‘id bin ‘Abd al-Rahman al-Bani al-Dimasyqi (w. 1351H).

88- (شفاء الأسقام بمولد خير الأنام صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Hajjuji al-Idrisi al-Hasani al-Tijani (w. 1370H). Ia diringkaskan dengan judul (بلوغ القصد والمرام في قراءة مولد الأنام). Beliau turut menyusun kitab (قصة المولد النبوي الشريف).

89- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad al-‘Azb bin Muhammad al-Dimyati.

90- Mawlid Syaraf al-Anam – belum ditemukan pengarang asalnya.

91- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh Muhammad Naja, mufti Beirut.

92- (الجمع الزاهر المنير في ذكر مولد البشير النذير) oleh Syeikh Zain al-‘Abidin Muhammad al-‘Abbasi al-Khalifati.

93- (الأنوار ومفتاح السرور والأفكار في مولد النبي المختار) oleh Abu al-Hasan Ahmad bin ‘Abd Allah al-Bakri.

94- (عنوان إحراز المزية في مولد النبي خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh Abu Hasyim Muhammad Syarif al-Nuri.

95- (فتح الله في مولد خير خلق الله) oleh Syeikh Fathullah al-Bunani al-Syazili al-Maghribi.

96- (مولد المصطفى العدناني) oleh Syeikh ‘Atiyyah bin Ibrahim al-Syaybani, dicetak tahun 1311H.

97- (المولد النبوي) oleh Syeikh Hasyim al-Qadiri al-Hasani al-Fasi.

98- (خلاصة الكلام في مولد المصطفى عليه الصلاة والسلام) oleh Syeikh Ridhwan al-‘Adl Baybars, dicetak di Mesir tahun 1313H.

99- (المنظر البهي في مطلع مولد النبي) oleh Syeikh Muhammad al-Hajrisi.

100- (المولد الجليل حسن الشكل الجميل) oleh Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad al-Munawi al-Ahmadi al-Syazili, dicetak di Mesir tahun 1300H.

101- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Himsi.

102- (الفيض الأحمدي في المولد المحمدي) oleh Syeikh Ibrahim Anyas (w. 1975).

103- (شفاء الآلام بمولد سيد الأنام) oleh al-‘Allamah Syeikh Idris al-‘Iraqi.

104- (شفاء السقيم بمولد النبي الكريم) oleh Syeikh al-Hasan bin ‘Umar Mazur.

105- (تنسم النفس الرحماني في مولد عين الكمال) oleh Syeikh Sa‘id bin ‘Abd al-Wahid Binnis al-Maghribi.

106- al-Sirr al-Rabbani fi Mawlid al-Nabiy al-‘Adnani oleh Syeikh Muhammad al-Bunani al-Tijani.

107- al-Nawafih al-‘Itriyyah fi Zikr Mawlid Khayr al-Bariyyah oleh Syeikh Salah al-Din Hasan Muhammad al-Tijani.


Abad Kelima Belas Hijrah


108- al-Rawa’ih al-Zakiyyah fi Mawlid Khayr al-Bariyyah oleh al-‘Allamah Syeikh ‘Abdullah al-Harari al-Habsyi (w. 1429H).

109- Mawlid al-Hadi SAW oleh Dr. Nuh ‘Ali Salman al-Qudhah, mufti Jordan.

110- al-Dhiya’ al-Lami‘ bi Zikr Mawlid al-Nabi al-Syafi‘ oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Umar bin Hafiz al-Ba‘alawi. Ia antara kitab mawlid yang mula luas tersebar, serta pengarangnya masih hidup.




Imam Muhammad ‘Abd al-Hayy al-Kittani di dalam kitabnya al-Ta’alif al-Mawlidiyyah telah menyenaraikan hampir 130 buah kitab mawlid yang disusun menurut abjad. Manakala Dr. Salah al-Din al-Munjid telah menyenaraikan sekitar 181 buah kitab mawlid di dalam kitabnya (معجم ما أُلف عن النبي محمد صلى الله عليه وسلم). Namun, kedua-duanya belum dapat saya telaah ketika menulis entri ini. Dijangkakan masih ada banyak lagi kita mawlid yang tidak disenaraikan. Sepertimana yang dapat kita lihat, sebahagian besar alim ulama yang disebutkan adalah tokoh-tokoh ulama tersohor di zaman mereka. Tidak dinafikan juga bahawa ada setengah kitab mawlid tersebut yang dipertikaikan nisbahnya kepada pengarangnya. Sekurang-kurangnya jumlah karya-karya mawlid yang besar ini menunjukkan kepada kita bukti keharusan memperingati mawlid Nabi SAW di kalangan ramai para alim ulama.


Juga tidak dinafikan bahawa sesetengah kitab-kitab mawlid ini mengandungi perkara-perkara yang dianggap batil atau palsu oleh sebahagian ahli ilmu. Namun sangka baik kita kepada pengarang-pengarangnya, mereka tidak akan memuatkan di dalam kitab-kitab tersebut perkara-perkara yang mereka yakin akan kepalsuan dan kebatilannya. Maka, setidak-tidaknya mereka hanya mengandaikan perkara-perkara tersebut hanya daif sahaja yang harus diguna pakai dalam bab sirah dan hikayat, selain fadha’il, sepertimana yang masyhur di dalam ilmu mustalah al-hadith. Setengahnya pula adalah masalah yang menjadi khilaf di kalangan para ulama. Justeru, agak keterlaluan jika ada yang melabelkan kebanyakan kitab-kitab tersebut sebagai sesat, munkar dan bidaah secara keseluruhan dengan tujuan untuk menyesat dan membidaahkan para pengarangnya. Sedangkan kritikan tersebut dapat dibuat dengan cara yang lebih berhemah dan beradab. Semoga Allah SWT memberi kita petunjuk.


Penutup


Demikian secara ringkas, alim ulama yang mengarang kitab-kitab mawlid dari abad kedua hijrah hinggalah abad kelima belas hijrah, iaitu dalam tempoh sekitar 1,200 tahun. Ini tidak termasuk kitab-kitab berhubung isu dan hukum bermawlid, serta karya-karya madih nabawi seperti Burdah al-Busiri yang jumlahnya juga cukup banyak untuk dihitung. Penyusunan kitab-kitab mawlid mengandungi tujuan yang sewajarnya disematkan dalam hati-hati para pembacanya, iaitu mengiktiraf nikmat besar yang dibawa oleh Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, di samping menanamkan kecintaan yang tidak berbelah bahagi kepada baginda SAW. Hasil daripadanya ialah mengikut dan mengamalkan sunnah-sunnah baginda SAW serta berpegang teguh dengannya di dalam menjalani kehidupan duniawi.


Wallahu a‘lam.


اللهمَّ صلّ وسلّم وبارك على سيّدنا محمّد وعلى آله

Monday, February 4, 2013

Kenapa ya??

Burung hantu sebagai haiwan nokturnal - mencari makan di malam hari mempunya keistimewan boleh memutar lehernya sampai 270 darjah. Mengapa terjadi seperti ini? Selama bertahun-tahun jadi teka-teki dunia sains.

Kini, para pengkaji telah memecahkan misteri tentang bagaimana Burung Hantu boleh memutarkan lehernya sampai 270 darjah, tanpa mengalami cedera sedikit pun.

 
www.buzzle.com
 
Dalam kajian yang diterbitkan di Jurnal Science itu, para pengkaji menemui, bahawa Burung Hantu memiliki struktur tulang dan sistem peredaran darah yang unik, sehingga dapat menampung kepala yang besar.

Spesies ini bernama ilmiah Strigiformes ini memiliki rongga besar pada tulang leher, yang merupakan tempat pembuluh darah arteri. Ruang besar itu membuat pembuluh darah tidak terhambat ketika burung itu memutar lehernya.
 angellsthoughts.blogspot.com
"Ruang besar itu yang memungkinkan pembuluh darah dapat tetap memasukkan darah ke otak dan mata meskipun posisi kepalanya sedang berputar," jelas spesialis otak, Dr Philippe Gailloud, Peneliti Senior dari Johns Hopkins University School of Medicine.

Penemuan dari kajian ini didapati setelah para pengkajii melakukan ujian dengan menyuntikkan cairan pewarna ke dalam pembuluh darah Burung Hantu yang telah mati.

Ketika kepala Burung Hantu diputar, maka pembuluh darah pada tulang leher akan membesar dan membuat cairan pewarna masuk

The Baghdad Batteries


 
The Baghdad Batteries adalah sebuah artifak yang ditemui di Mesopotamia yang diketahui dibuat pada zaman awal masihi. Benda ini seperti perlengkapan orang mesir zaman dahulu ketika bermusafir.

Ketika seorang arkeologi sedar dia bukan hanya menganalisa sebuah pot, dia langsung terkejut ketika menyedari bahawa benda itu adalah sebuah bateri. Pot tersebut berisi cairan bateri seperti cairan acid corrosion.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana manusia pada zaman itu boleh membuat cairan bateri dan menggunakannya sebagai lampu?

Isteri solehah




Oleh: Tuan Guru Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat
Isteri solehah merupakan idaman bagi setiap lelaki yang bergelar suami. Antara sifat-sifat isteri yang solehah ialah:
  1. Membatasi pandangan hanya kepada suami. Dia puas dengannya dan tidak memandang selainnya, tidak membanding-bandingkan dengan orang lain serta tidak mengharapkan perhatian daripada orang lain selain daripada suaminya.
  2. Membataskan aktiviti-aktiviti hariannya di rumah, menghadkan masa di luar rumah kecuali apabila ada alasan syarak yang menghalalkan dia berbuat demikian.
  3. Bersegera meminta maaf meskipun dirinya dizalimi.

    Sabda Rasulullah s.a.w.: "Mahukah engkau aku beritahu mengenai isteri-isterimu yang menjadi ahli syurga? Merekalah yang penuh kasih, subur dan suka meminta maaf. Iaitu isteri yang sekiranya dizalimi, dia berkata, 'Inilah tanganku ada di tanganmu. Aku tidak akan tidur sehingga engkau redha kepadaku.'" (H.R. al-Nasa'ie)
  4. Memenuhi hak-hak suami dengan baik, mengasuh dan mendidik anak-anak dengan baik serta memenuhi hak kedua-duanya dengan baik.
  5. Berusaha supaya sentiasa tampil menarik setiap masa. Penampilannya cantik, aromanya wangi, tutur katanya lembut dan memikat dan baik tingkah-lakunya.
  6. Berusaha untuk tidak memperlihatkan hal-hal yang tidak disukai suaminya. Isteri yang pintar tidak akan memperlihatkan kepada suaminya darah haid atau nifas, tidak muntah, tidak membuang air kecil ataupun besar di hadapan suaminya, dengan alasan tidak perlu malu-malu lagi di hadapan suaminya. Boleh jadi semua perbuatan sebegitu tidak disukai oleh suaminya.
  7. Menghindari perkara-perkara yang boleh merosakkan penampilannya sebagai seorang wanita yang cantik, kerana wanita diciptakan untuk berhias cantik.
  8. Memberikan penghormatan kepada suami dengan sesuatu yang membahagiakan dan menyenangkan hatinya.
  9. Pandai memasak serta pandai menjaga kebersihan diri, anak-anak dan rumah-tangga.
  10. Cerdas dan cermat dalam bertindak, berbicara dan meminta.
  11. Sabar, berani dan cekap dalam melaksanakan tanggungjawab rumah-tangga.
  12. Menghantar suami ke depan pintu setiap kali suami berangkat ke tempat kerja, menyambutnya setiap kali dia pulang, berterima kasih di atas pemberiannya dan selalu mendoakan kebaikan kepadanya.

Sunday, February 3, 2013

(Gambar) 100,000 hadir, kejutan Ustaz Azhar di Stadium Darul Makmur



http://kachipemas.blogspot.com
100 Ribu yang Hadir: Ustaz Azhar Idrus Buat Kejutan Di Stadium Darul Makmur Kuantan Pahang...Jom Lihat [up date]
 
UAI Telah membuat kejutan di Stadium Darul Makmur ..Kehadiran anggaran 100 ribu orang yang hadir ke Stadium Darul Makmur Kuantan ini malam tadi.
Yang lagi hebatnya... Walau pun hujan mereka tetap tidak berganjak, balik dsb. Subhanallah... Allahuakbar..
Hebat sungguh orang Kuantan. Takbir. —
Konvoi bermotosikal mengiringi UAI dan ustaz haslin bollywood ada [ 6 Gambar ]
Kelihatan Puluhan Ribu membanjiriri stadium Darul Makmur..malam Ni
Kelihatan anak muda yang dahagakan Ilmu ..bukan konsert mega
 
THIS IS DARUL MAKMUR!!!
Sedikit Bingkisan Di Stadium Darul Makmur, Malam Tadi... Lautan manusia membanjiri Stadium Darul Makmur sempena Wacana Perdana yang menampilkan pendakwah terkenal Ustaz Azhar Idrus dan Ustaz Haslin Baharin (Bollywood) malam tadi. Orang ramai dilihat memasuki stadium sejak jam 6.00 petang lagi sebelum mereka bersolat Maghrib buat julung kalinya di dalam stadium tersebut. Inilah sejarah dan kali pertama berlaku sejak 50 tahun lalu, umat Islam berjaya sujud kepada Allah di salam stadium berkenaan sebenarnya.
Moderator sedang bersiap sedia..sebelum UAI muncul bersama Ustaz Haslin
Nukilan Abu Luqman

Thursday, January 31, 2013

Mentimun, ubat semulajadi Pengubatan Islam




Selama ini, mungkin, kita hanya tahu mentimun sebagai sayuran dan pelengkap makanan. Padahal, banyak manfaat yang dikandung oleh sayuran ini, baik untuk kecantikan maupun kesihatan. Berikut ini pemaparannya sebagaimana pernah dimuat dalam Majalah Hidayatullah.
 
Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sayuran ini sudah dipakai sebagai salah satu bahan untuk kesihatan. Biasanya, mentimun dikombinasi dengan kurma segar untuk menjaga kesihatan. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering melakukannya.

Dari Aisyah bahwasanya,
“Rasulullah sering makan mentimun dicampur dengan kurma basah.” (Riwayat Tirmidzi)
 
Selain untuk menjaga kesihatan, kombinasi keduanya juga untuk meningkatkan berat badan dan mengubah bentuk tubuh yang semula kurus ceking menjadi lebih berisi.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahawa Aisyah Radhiyallahu ‘anha (RA) ketika hendak dipertemukan dengan Rasulullah SAW,
 
Aisyah berkata,
“Ibuku mengubatiku agar aku kelihatan gemuk, saat dia hendak mempertemukan aku dengan Rasulullah, dan usaha itu tidak membuahkan hasil sehingga aku memakan mentimun dengan kurma basah. Kemudian aku menjadi gemuk dengan bentuk yang ideal.” (Riwayat Ibnu Majah)
 
Selain itu, campuran kurma dan mentimun boleh memperbesar ukuran payudara bagi kaum wanita.
 
Dalam ilmu pengubatan Islam, sayur ini yang memiliki nama ilmiah cucumis sativus ini dikenal dengan nama qitsa’ atau khiyar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut sayuran ini dalam surat Al Baqarah: 61.
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak boleh sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, iaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”.
 
Hasil penelitian modern menyebutkan bahawa mentimun mengandung 0,65% protein, 0,1% lemak, dan 2,2% karbohidrat. Selain itu, juga mengandung zat bermanfaat lain, seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.
 
Kerana banyak mengandung bahan penting itu, mentimun sangat baik digunakan sebagai tonik (menjaga kesihatan). Selain itu, ia juga boleh digunakan untuk mengubati beberapa penyakit.

Jus mentimun bersifat mendinginkan badan dan menurunkan panas pada saat demam. Juga menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, serta menyihatkan saluran pencernaan.
 
Ia juga merupakan peluruh kencing yang baik, sementara hirisan mentimun yang dikompreskan pada kelopak mata saat terpejam, dapat menghilangkan titik hitam pada kantung mata akibat kurang tidur.
 
Kulit wajah dengan mentimun yang dihaluskan merupakan ramuan semulajadi  untuk meremajakan sel-sel kulit wajah agar tetap awet muda dan mencegah keriput.
 
Beberapa khasiat lain dari mentimun juga dibahas dalam beberapa Hadist Nabi maupun dalam Al Qur`an yang pada dasarnya berkhasiat untuk kesihatan, kesegaran, dan kecantikan. (hidayatullah)

Saturday, January 26, 2013

Kota ini bakal tenggelam




1. Bangkok
 
bangkoksuccess.com


 
2. Ho Chi Minh City
 
tamsingh.com


 
3. Shanghai 
adage.com


 
4. Mumbai
 
cse.iitb.ac.in


 
5. Jakarta
 straitstimes.com

Wednesday, January 23, 2013

Pokok unik

Jika Anda melihat pohon ini mungkin akan befikir seseorang telah mengecatnya menjadi berwarna-warni. Namun ternyata warna pelangi ada pohon eukaliptus ini adalah asli. Keseragaman warna merah, ungu, biru hingga oren ini disebabkan titisan getah pohon.
 
 
 
 
.

Monday, January 21, 2013

Listen ! Listen ! gambar menarik TGNA dengan Bawani


YAB. Tuan Guru membuka tasfir dan terjemahan Al-Quran dalam versi English, Surah Al-Baqarah ayat 251 untuk di tunjukkan kepada saudari Bawani.

Sampaikanlah ilmu walau sebaris ayat~Ini baru betul nk berdakwah..
Mudah mudah ia mendapat hidayah takbir.

Wednesday, January 16, 2013

Debat .. Islamikkah Ia ?

sumber

Sudah lama saya tidak menulis di dalam laman ini. Ya, bukan sudah tapi sangat lama. Menulis perlukan tumpuan.Jika ingin menulis tentang resepi masakan pun perlukan penelitian bimbang masakan tidak menjadi, apatah lagi menulis berkenaan agama yang sangat tinggi iaitu Islam. Sudah tentu lebih diperlukan penelitian dan penumpuan. Bimbang disalahertikan dan disalah tafsirkan. Bukan hanya percakapan yang akan menjadi penilaian pada timbangan neraca akhirat kelak, malah tulisan juga sangat berat penilaiannya kelak. Jika baik apa yang ditulis maka baiklah natijahnya, jika buruk dan jelek apa yang dikarang dan disajikan pada pembaca maka buruk jugalah natijahnya.

Sehari dua ini , ada suasana baru yang saya kira mula wujud dalam benak pemikiran masyarakat khususnya golongan muda-mudi , siswa-siswi, pemikir-pemikir dan lain-lain. Suasana yang saya maksudkan ialah sukakan perdebatan atau dengan bahasa yang lebih sopan PERBAHASAN dan BERBALAS HUJAH.

Ada yang mengatakan bahawa inilah yang paling Islamik, inilah yang paling sesuai dengan zaman sekarang, zaman orang suka berfikir dan boleh menilai. Jika diadakan perdebatan maka kita secara tidak langsung membuka ruang untuk masyarakat membuat pilihan mana yang baik dan mana yang buruk.

Persoalannya , benar atau tidak persepsi sebegini? Benar-benarkah ianya mengikut acuan agama?

Apakah Maksud Perdebatan @ Mujadalah ? 

Kata Al-Allamah al-Muhaddis Al-Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah : Perdebatan @ Mujadalah bermaksud berbalas hujah dengan harapan dapat mengalahkan dan menundukkan musuh.

Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah pula menyebut bahawa dengan perdebatan ini akan menyebabkan yang kalah akan dihina manakala yang menang akan disanjung dan membangga diri dengan digelar sebagai seorang yang bijak dan berilmu.

Hakikatnya perdebatan bukan untuk mencari kebenaran tetapi sebaliknya hanya semata-mata untuk menjatuhkan lawan dihadapan orang ramai.

Mungkin ada yang akan bertanya : Bagaimana kita ingin membezakan di antara berdebat untuk menjatuhkan seseorang dan berdebat untuk menegakkan kebenaran?

Bagi membezakan kedua perkara ini , menurut Al-Allamah al-Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah seseorang perlu menilai kepada dirinya sendiri : Jika dia berbahas dengan seseorang dan dia berusaha untuk menjatuhkan air muka seseorang maka ketika tersebut dia termasuk di dalam perdebatan yang dicela. Tetapi jika dia berusaha untuk memahamkan dan memberikan penerangan sebaik mungkin terhadap perkara yang benar kepada lawannya dengan menghormati pihak lawan maka pada ketika tersebut dia dikira berdebat menegakkan kebenaran.

Perkara ini akan dirasai oleh kedua-dua pihak lawan tersebut sendiri. Jika kesudahannya berakhir dengan kebencian di dalam hati maka itu adalah perdebatan yang dicela, manakala jika ianya berakhir dengan masing-masing mengakui kesilapan jika dia tersilap dan mengikut kepada kebenaran jika pihak lawan di pihak yang benar, maka inilah perbincangan @ debat yang dipuji oleh syarak.

Sebenarnya terdapat beberapa istilah yang sepatutnya difahami oleh kita bagi membezakan apa yang disebut sebagai debat yang dicela, debat yang dipuji @ perbincangan, dan lain-lain.

Al-Allamah Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid rahimahullah, salah seorang ulama yang pernah mengajar di Masjid al-Azhar menyebut di dalam kitabnya : Risalah al-Adab Fi Ilmi Aadab al-Bahsi wal Munazarah ( Risalah Adab yang menerangkan tentang ilmu adab berbahas dan berbincang) berkenaan perbezaan antara istilah mujadalah dan munazarah .

Tajuk kitab itu sahaja sudah dapat menunjukkan kepada kita bahawa ulama tidak menggunakan tajuk ( adab bermujadalah) sebaliknya digunakan tajuk ( adab bermunazarah) . Kedua-dua ini adalah mempunyai maksud yang sangat berbeza.

Maksud Mujadalah sudah saya terangkan pada permulaan tulisan saya. 
Manakala maksud bagi Munazarah pula ialah : Perbincangan dua pihak yang bertujuan untuk mempertahankan hujahnya yang benar dan membatalkan hujah saudaranya  dengan keinginan kedua-dua pihak bagi menjelaskan kebenaran ( bukan berniat menjatuhkan dan memalukan pihak yang lain). 

Cerita Menarik

Seorang lelaki telah pergi bertemu dengan seorang ahli bijak pandai lalu berkata : " Aku ingin berdebat denganmu" , maka jawab Ahli Bijak Pandai tersebut : " Boleh, jika kamu mampu tepati syarat-syarat yang aku letakkan: 
1) Jangan Marah
2) Jangan Tergesa-gesa
3) Jangan Bangga Diri 
4) Jangan Cepat menghukum salah kepada orang lain
5) Jangan mentertawakan pihak lawan
6) Jangan menjadikan dakwaanmu ( tanpa bukti) sebagai dalil utamamu
7) Jika kita menggunakan khabar angin , maka tujuan kita hanyalah untuk bertanyakan adakah khabar itu benar atau tidak
8) Jika kita menggunakan hujah daripada akal maka jadikan pertentangan itu sebagai taaruf ( untuk saling mengenali antara satu sama lain ) 
9) Perlu kita sematkan di dalam hati bahawa perdebatan ini hanya untuk mencari kebenaran bukan untuk menjatuhkan pihak lawan
10) Jangan sekali-kali berpaling kepada orang lain @ ke tempat lain ketika aku sedang berbicara denganmu
Adab-adab ini disebutkan oleh al-Imam Mahfuz bin Ahmad al-Kalwazani , Ketua Ulama Hanbali pada zamannya di dalam kitab ( al-Intisar Fi al-Masail al-Kibar)

Kesimpulan 

Jika semua jelas dengan istilah dan maksud sebenar perkara ini, maka kita akan dapat menilai sebenarnya apa yang diingin-inginkan oleh pemuda-pemuda sekarang yang hanya melihat kepada selesainya sesuatu masalah dengan berdebat. Namun hakikatnya , setelah selesai perdebatan langsung tiada tindakan daripada hasil perdebatan ke arah lebih baik.

Malah lebih buruk ingin menyerahkan kepada orang ramai membuat penilaian. Adakah semua layak memberikan penilaian? Kebanyakkan orang pada zaman sekarang hanya memberikan penilaian mengikut selera dan pandang sisinya. Bukan kepada kebenaran. Hanya memandang kepada siapa yang lebih hebat susunan katanya, berketerampilan dan lain-lain. Bukan kepada kebenaran.

Ini hakikat yang mesti diterima , bukan dongengan. 
Tak salah kalau saya katakan bahawa debat zaman sekarang hanya lebih menyeronokkan nafsu bukan membangkitkan iman. Semoga Allah taala menyelamatkan kita daripada fitnah akhir zaman ini.

Rujukan :
1) Risalah al-Musytarsyidin oleh al-Imam Al-Haris al-Muhasibi rahimahullah (165-243H)
2) Maraqi al-Ubudiyyah Syarah Bidayah al-Hidayah oleh al-Syeikh Al-Allamah Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani rahimahullah ( 1315H)
3) Risalah al-Adab Fi Ilmi Aadab al-Bahsi wal Munazarah oleh Al-Allamah Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid al-Azhari rahimahullah.

kekoh sokmo

Related Posts with Thumbnails